Puncak Gunung Giyanti Tempat Wajib bagi Penikmat Sunrise


sunrise gunung giyanti

Jika ditanya aku adalah orang yang easy going atau tidak, maka jawabannya akan bergantung pada siapa yang mengajak aku pergi. Dan orang itu adalah yang aku percaya dan aku merasa nyaman dengannya. Maka kemanapun dia mengajak pergi, let's go. Seperti kemarin, saat aku dengan gembiranya menyambut ajakan untuk melakukan pendakian di Gunung Giyanti satu hari sebelum hari H.

Padahal jika dipikirkan lagi, melakukan persiapan untuk mendaki tidak bisa seinstant itu, apalagi untukku yang pemula. Tapi aku percaya, orang yang mengajakku pergi adalah orang yang bertanggungjawab dan mau membantuku jika ada suatu hal yang tidak diinginkan. Makanya, aku sih cuss saja ya kalau beliau yang mengajak pergi dan mungkin hanya beliau saja yang akan aku iyakan ajakannya.

Gunung Giyanti yang Sangat Cocok bagi Pemula

Satu hal yang harus ditekankan bagi siapapun yang akan mendaki adalah, jangan pernah meremehkan gunung manapun sekalipun dia adalah anak gunung yang tingginya mungil. Maka dari itu, tetaplah mempersiapkan peralatan perang yang lengkap dan layak untuk dibawa turun ke medan. Jangan seperti aku ya, hiks.

Lokasi Gunung Giyati

Basecamp Gunung Giyanti terletak di Dusun Malanggaten, Balesari, Windusari, Magelang, Jawa Tengah. Hanya ada satu basecamp karena memang hanya ada satu jalur pendakian saja. Aku menggunakan Google Maps untuk membantu menemukan tempat tersebut, jalan yang ditunjukkan memang akurat.

Tapi sayangnya saat hampir sampai kita malah diarahkan lewat jalan belakang yang kata warga sekitar sedang longsor, gara-gara itu motor yang kita tumpangi menjadi oleng. Aku sendiri panik sampai tidak bisa melakukan apapun. Setelah dicoba beberapa kali untuk putar balik, akhirnya motor bisa kembali menuruni jalan salah itu dan menuju basecamp yang sesungguhnya.

Tipsnya jika menggunakan google maps, saat hampir sampai dan menemukan pertigaan lalu ada papan hijau bertuliskan “puncak, yuk berdo’a dulu” ambil kiri saja ya. Dan lurus mentok, maka nanti akan menemukan basecampnya, rumah yang penghuninya sangat ramah. Oya, buka 24 jam ya ini Fren. 

Gunung Giyanti Berapa MDPL?

Gunung Giyanti memiliki tinggi 1.200 meter di atas permukaan laut (MDPL). Pastinya ini adalah track yang sangat cocok bagi pemula yang ingin menikmati keindahan di atas awan. Dan sangat direkomendasikan bagi pemburu sunrise. Karena selain pendek, gunung ini juga menyajikan pemandangan yang tidak akan kalah dari yang lainnya.

Jalur Pendakian Gunung Giyanti

Meski pendek, gunung ini juga sedikit sangar ya Fren. Saat aku mendaki kemarin, rasa-rasanya hanya sedikit saja bonus yang diberikan. Dan, apa yang aku katakan di atas untuk tidak menyepelekan gunung juga berlaku bagi Gunung Giyanti ini. Jujur saja kemarin aku memang kurang persiapan, selain karena memang waktunya mepet, peralatan tempurku juga sudah tidak layak.

Contohnya saja sendal gunungku yang solnya sudah hampir rata, melakukan pendakian dengan sendal seperti ini sama saja seperti menyerahkan diri di hadapan singa yang lapar. Sebelumnya memang aku sudah melakukan riset kecil-kecilan, dan aku bertanya kepada temanku tentang tracknya apakah aman menggunakan sendal bututku, karena tidak ada waktu juga untuk membeli sendal baru.

Dan memang terlihat aman-aman saja sih, tapi saat sudah berada di medan, jeng.. Jeng.. Iya aman, asalkan itu dilakukan saat musim kemarau, karena tidak akan ada air hujan yang membuat jalannya licin. Susah payah aku menaiki Gunung Giyanti dengan berjalan seperti nenek-nenek. Tempo lambat itu akhirnya membuat teman-temanku harus turut bersabar.

Pesan dari seseorang yang telah lalai, pastikan semua keperluan yang akan digunakan untuk naik gunung itu masih dalam kondisi yang baik dan layak dipakai ya. Jangan nekat, karena bukan kamu saja yang kerepotan tapi hal itu juga akan menjadi beban untuk partner mendaki kalian.

Selama Pendakian

Aku dan kedua temanku mulai mendaki kurang lebih pukul 21.00 WIB. Kata ibu yang menjaga basecamp ada dua orang laki-laki yang sudah naik lebih dulu dari kita, jadi kemungkinan akan bertemu nanti. Jujur aku kaget, karena ternyata hanya ada 5 orang total dari rombonganku dan dua orang laki-laki yang ibu itu sebutkan. Karena saat itu adalah long weekend, ekspektasiku akan ramai sekali,  ternyata.

Tapi disatu sisi aku merasa senang, karena kita akan bebas bercerita sampai malam atau tertawa dengan lepas karena tidak ada tetangga yang akan terganggu. Urusan kedua laki-laki itu? Tinggal cari tempat yang jauh saja dari mereka bukan? Hehe.

Kawasan Gunung yang Sangat Religius

Selama menaiki puncak kita diiringi oleh suara sholawat yang dilantunkan warga sekitar, jadi disetiap langkah yang kita pijaki selalu ada nama Allah dan Rasulnya. Membuat kita sadar untuk selalu memperbaiki niat, bahwa perjalanan ini adalah sebuah cara untuk semakin mendekatkan diri pada Allah melalui ciptaanNya yang begitu indah.

Selain sholawat juga terdapat pemandangan yang indah dari cahaya-cahaya lampu rumah penduduk, setiap kita berhenti untuk istirahat, kita akan berbalik badan ke belakang dan melihat kumpulan lampu itu yang seperti butiran ketombe, eh bintang maksudnya. 
“nikmatilah setiap proses perjalanan, karena kita tidak akan pernah tahu apakah kita akan sampai puncak atau tidak” -ANVS

Kondisi Puncak Gunung Giyanti

Saat sampai di atas semua rasa lelah terbayarkan dengan pemandangan yang tersaji, waktu sudah menunjukkan kurang lebih pukul 22.30 WIB. Aku lupa tepatnya berapa menit kita menghabiskan waktu untuk naik. Sisa waktunya kita lakukan untuk mendirikan tenda, dan setelah itu ada sesi ngobrol sebentar sembari menikmati hamparan bintang yang ada di atas maupun di bawah.

Pagi harinya

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyaksikan sunrise dari kedua mataku sendiri. Rasanya mengharukan dan kembali aku mengucapkan syukur kepada Rabb. Karena sudah diberikan kesempatan untukku melihat pemandangan elok ini. Semua itu membuatku sadar, mau setinggi apa gunung yang kita naiki, jika Allah tidak memberikan izin kepada kita untuk melihat keindahan matahari terbit, maka tidak akan pernah kita dapatkan sunrise yang syahdu ini.

Setelah puas memandangi matahari, ah tidak. Aku tidak pernah puas, rasanya ingin lagi melihat gradasi dari warna hitam, orens, lalu birunya langit kembali menghiasi penglihatanku. Tapi semakin tingginya matahari membuat kita tersadar kondisi perut yang mulai keroncongan meminta haknya untuk ditunaikan.

Sisa waktu kami manfaatkan sebaik mungkin dengan saling bercerita tentang kabar masing-masing, mimpi-mimpi yang kita miliki. Sesi ini adalah hal yang sangat penting dalam agenda pendakian kita, karena moment seperti inilah yang akan mampu mengisi daya kita untuk menjalani aktivitas setelah ini.

Pulang

Karena terlalu asik dengan obrolan kami, akhirnya kita semua lupa waktu. Sadar ketika langit mulai gelap karena awan mendung, barulah kita bergegas menuju tenda dan segera membereskan perlengkapan. Tidak membutuhkan waktu lama hingga semua sudah terlipat rapi, tak lupa kita juga mengambil beberapa foto sebelum akhirnya turun.

Dan seperti yang sudah kita duga, hujan turun. Perjalanan kita menuju basecamp aman-aman saja sampai ketika mencapai seperempat jalan, hujan semakin deras dan membuat tanah yang kita pijaki menjadi sangat licin. Terlebih aku yang menggunakan sendal abal-abal, berulang kali terpeleset, dan beberapa kali berguling-guling karena aliran air semakin deras.

Kalau saja ini bukan lereng gunung, aku akan dengan senang hati meluncur saja dengan posisi berjongkok. Tapi itu ide gila, karena banyak sekali batu dan ranting yang akan membuat tubuh luka-luka. Dan pada akhirnya aku memilih untuk melepaskan alas kakiku, dan diluar dugaan. Tanah yang aku pijaki sama sekali tidak licin.

Kedua raut wajah temanku pun menjadi lebih rileks karena beban mereka berkurang. Bercanda, mereka pasti bersyukur juga karena kita semua bisa sampai basecamp dengan selamat dan lancar. Dan ya, kita bisa mengakhiri pendakian di bukit mungil yang terasa penuh tantangan dengan banyak mendapat pelajaran baru.

Kesimpulan

Nah itu tadi, kisah dari perjalanku dari pendakian hingga turunnya kembali kami bertiga. Hal yang aku dapat dalam perjalanan begitu banyak, mulai tidak meremehkan hal apapun, menggunakan peralatan yang lengkap dan aman. Tapi meski sedikit action, aku sangat merekomendasikan Gunung Giyanti bagi teman-teman yang mau mencoba mendaki gunung pertama kali, karena sunsetnya sangat cantik.
Panggil aku Aky. Memiliki keterbatasan berkomunikasi secara langsung jika membicarakan sesuatu secara mendalam, dan memiliki imajinasi liar serta kehaluan diluar batas wajar. Menulis adalah caraku un…

Posting Komentar