Postingan

Pentingnya Edukasi HKSR bagi Remaja Disabilitas dan OYPMK



HKSR atau Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi bagi sebagian orang masih menjadi topik yang taboo. Padahal hal ini sangat penting ditanamkan sejak anak mengalami masa pubertas. Karena pada masa itu, banyak sekali muncul hal yang membingungkan. Sehingga penting sekali edukasi tentang HKSR ini disampaikan kepada mereka, terutama pada remaja disabilitas dan OYPMK (Orang Yang Pernah Mengalami Kusta).

Mengapa HKSR Dianggap Isu yang Taboo?

Banyak sekali orangtua yang lalai dengan kewajibannya memberikan pengetahuan tentang HKSR kepada anaknya. Karena kebanyakan dari mereka merasa bahwa hal ini akan dapat dipahami anak mereka dengan sendirinya.

Selain itu banyak pula orangtua yang merasa sungkan untuk membuka topik obrolan terkait hal sensitif ini. Merasa kesulitan membawa obrolan ini menjadi topik yang menarik terlebih bagi anak mereka yang pendiam. Dan tidak sedikit yang menganggap isu HKSR ini penting.

Apa Pentingnya HKSR Untuk Diketahui Remaja Disabilitas dan OYPMK?

HKSR bagi remaja disabilitas

Dalam sebuah Webinar Zoom yang diadakan oleh Ruang Publik KBR dibersamai dengan 3 narasumber hebat yaitu Nona Ruhel Yabloy, Project Officer HKSR, NLR Indonesia, kemudian ada juga Westiani Agustin, Founder Biyung Indonesia, lalu Wihelimina Ice sebagai Remaja Champion Program HKSR.

Nona Ruhel Yabloy menyampaikan bahwa HKSR itu adalah hal yang tentu saja penting, meskipun masyarakat masih merasa taboo. Hal ini harus dipersiapkan sebagai hak bagi mereka untuk mengetahui dan melihat perubahan apa yang terjadi pada dirinya.

Kemudian beliau menyebutkan salah satu contoh ketika anak sudah mengalami pubertas, perempuan dengan menstruasinya dan laki-laki dengan mimpi basahnya. Informasi penting yang tidak tersampaikan kepada mereka, sehingga banyak kasus remaja disabilitas dan OYPMK menjadi korban kekerasan dan pelecehan.

Hal ini sangat berkaitan ketika seorang remaja telah mahami HKSR maka dia akan mampu menjaga kebersihan, melindungi dirinya dan bersuara serta mengerti tentang apa yang menjadi haknya untuk dilindungi.

Westiani Agustin sebagai Founder Biyung Indonesia juga menyampaikan bahwa stigma perempuan menjadi kontributor sampah yang terbesar di dunia. Meskipun hal ini tidak bisa terhindarkan karena kebutuhan seorang perempuan saat menstruasi dengan pembalutnya.

Dari situ Biyung Indonesia membuat produk yang bisa mengurangi sampah yaitu pembalut kain, sayangnya hal ini masih sulit dijangkau kelompok perempuan miskin, rentan yang belum mampu mengakses hak menstruasi sehat. Oleh karena itu Biyung Indonesia mengadakan penggalangan dana untuk membagikan pembalut secara gratis untuk masyarakat menengah kebawah.

Wihelimina Ice sebagai Remaja Champion Program HKSR juga membagikan pengalamannya sebagai remaja disabilitas dalam keterlibatannya dengan NLR Indonesia. Ice mengatakan HKSR ini memang sangat dibutuhkan karena sebelumnya belum pernah ada orang yang memberikan edukasi terkat HKSR.

Meskipun orangtua dan dari puskesmas setempat tidak mungkin lepas tangan terkait HKSR. Namun, informasi yang dapat diakses mengenai HKSR ini banyak, akan tetapi sedikit saja yang memberikan informasi dengan benar.

Hak-hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi bagi Remaja Disabilitas dan OYPMK yang Perlu Diketahui

Sebuah cara untuk membelajarkan seorang anak dengan disabilitas dan OYPMK (Orang Yang Pernah Mengalami Kusta) untuk berani membangun

Hubungan

Penyandang disabilitas juga berhak memiliki hubungan yang sehat baik dengan keluarga, teman lalu bagaimana dia akan memilih pasangannya nanti. Sayangnya hal ini terkadang digmbosi oleh orang dalam lingkungan anak disabilitas dan OYPMK karena tingginya stigma.

Kebersihan Diri

Kebersihan diri ini menjadi hal yang wajib bagi semua orang terutama bagi remaja disabilitas dan OYPMK untuk menambah kepercayaan diri. Tidak dipungkiri bahwa seseorang yang memiliki wajah tampan pun terkadang bisa dihindari karena orangnya tidak pandai merawat diri. Selain itu kebersihan juga mampu menghindarkan kita dari berbagai penyakit.

Agar Tidak Terjadi Bullying

Masih tingginya stigma pada disabilitas dan OYPMK ini membuat sebagian orang merasa berhak melakukan diskriminasi terhadap mereka. Hal ini yang harusnya dihindarkan dengan memperbanyak edukasi bukan hanya kepada disabilitas dan OYPMK akan tetapi pada orang disekitarnya.

Orangtua atau Kerabat Dekat Membangun Lingkungan yang Sehat

Kehadiran orangtua dan kerabat dekat yang suportif ini diharapkan mampu memberikan lingkungan yang aman bagi mereka agar suvive. Karena terkadang stigma itu malah datang dari orang-orang terdekat.

Berapa Usia Ideal Menyampaikan HKSR kepada Anak?

Menurut mbak Nona Ruhel Yabloy mulai 4 tahun anak bisa dijelaskan mengenai HKSR, memulainya melalui toilet training, mengenal organ tubuh, kebersihan diri dan mengenalkan bagian tubuh mana saja yang tidak boleh dipegang, kemudian siapa yang boleh memegang.

Kesimpulan

Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi ini menjadi hal yang harus mulai digaungkan kepada masyarakat umum. Tidak hanya menjadi kewajiban bagi petugas kesehatan saja, namun orangtua harus mulai aware dengan isu HKSR. Terlebih kepada remaja disabilitas dan OYPMK agar dapat melakukan penjagaan diri.

Posting Komentar